Kontributor : Tim Bimas Islam / Editor : Muh. Hefniyul M
PAJARAKAN, Jum’at, 17 Juli 2026 – Langkah unik dan sarat kearifan lokal diambil oleh Bupati Probolinggo, dr. Mohammad Haris atau yang akrab disapa Gus Haris, dalam mendekatkan diri dengan warganya. Alih-alih menggelar rapat formal di dalam gedung pemerintahan yang kaku, Gus Haris memilih turun langsung ke tengah masyarakat dan mengadakan konsolidasi santai lewat tradisi “Ngakan Polo’an”—sebuah tradisi makan bersama ala santri pesantren dengan menu sederhana yang digelar di atas hamparan daun pisang panjang.
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan langsung terasa saat Bupati duduk bersila, berbaur tanpa jarak dengan para tokoh agama, pemuda, petani, hingga masyarakat umum. Di hadapan hamparan nasi, lauk-pauk lokal, sambal, dan lalapan, sekat protokoler antara pejabat dan rakyat seketika runtuh. Semua yang hadir menikmati hidangan menggunakan tangan langsung, merekatkan rasa kebersamaan yang natural.
“Ini adalah tradisi leluhur kita, tradisi pesantren dan masyarakat Probolinggo. Saat kita makan polo’an seperti ini, tidak ada lagi perbedaan atau sekat strata sosial di antara kita. Di sinilah momen terbaik untuk saling mendengar secara jujur,” ujar Gus Haris di sela-sela kegiatan.
Melalui pendekatan “ala santri” ini, diskusi mengenai pembangunan daerah mengalir dengan sangat organik. Masyarakat tidak canggung lagi menyampaikan keluhan, masukan, maupun harapan mereka terkait infrastruktur, pertanian, hingga layanan publik. Sembari mencicipi hidangan, Gus Haris mendengarkan setiap keluh kesah tersebut secara saksama, menjadikannya sebagai catatan penting untuk dievaluasi oleh jajaran dinas terkait.
Strategi konsolidasi berbasis budaya santri dan pendhalungan ini mendapat apresiasi luas dari masyarakat dan tokoh agama setempat. Langkah ini dinilai bukan hanya sekadar melestarikan warisan budaya lokal agar tidak punah, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa komunikasi politik dan koordinasi pembangunan bisa berjalan efektif melalui pendekatan yang humanis dan menyentuh hati rakyat.
Acara makan bersama tersebut ditutup dengan doa bersama, meninggalkan kesan mendalam bahwa pembangunan Kabupaten Probolinggo ke depan akan terus dibangun di atas fondasi gotong royong dan kesetaraan.
